• Kontak Kami
  • Hotline : 083820409499
  • SMS : 081322063949
  • BBM : D05572DE

Kontak Kami

( pcs) Checkout

Beranda » Artikel Terbaru » MAKNA DAN HIKMAH GERAKAN SHOLAT

MAKNA DAN HIKMAH GERAKAN SHOLAT

Diposting pada 6 August 2018 oleh Tuneeca Online

MAKNA DAN HIKMAH GERAKAN SHOLAT

إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ.

Maksudnya: Sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. (QS al-Ankabut: 45)

Sholat merupakan suatu aktivitas jiwa yang termasuk dalam kajian ilmu psikologi transpersonal, karena sholat adalah proses perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan seseorang manusia untuk menemui Tuhan Semesta Alam.

Sholat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat pesholat untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi dan pengalaman puncak. lanjut Islam menempatkan zat yang Maha Mutlak sebagai puncak tujuan rohani, sandaran istirahatnya jiwa, sumber hidup, sumber kekuatan dan mencari inspirasi, dengan mengarahkan jiwa kepada Allah rohani akan mengalami pencerahan karena ia berada pada ketinggian yang tak terbatas.

اَلصَّلاَةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ[1]

“Sholat itu merupakan mikrajnya orang-orang mukmin?”
Adakah kaitannya dengan Rasululah SAW? Perintah sholat adalah hasil perjalanan beliau ketika berjumpa dengan Allah di Sidratul Muntaha.

Firman Allah:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku. (QS.Thaha:14).

Kita merasa betapa sholat menjadi beban sejak kecil, kita selalu ketakutan jika tidak sholat akan dimasukkan ke neraka, sehingga setiap kali ada suara adzan perasaan takut dan ngeri sering menyelusup ke dalam hati. Tanpa disadari, secara psikologis pikiran kita terganggu dengan doktrin tersebut. Selama ini kita sholat hanya menggunakan tata aturan otak kiri (menghapal, berhitung, mengingat) yang kenyataannya adalah menghasilkan ketidaknyamanan dan rasa jenuh.

Perasaan terpisah karena harus memenuhi logika hukum, sementara aktivitas otak kanan dibiarkan liar oleh karena berprinsip yang penting sudah memenuhi syarat sahnya sholat. Akibatnya karena menggunakan otak kiri kita akan merasa capek karena terdoktrin harus berkonsentrasi dan karena otak kiri lelah, otak kanan bekerja liar kesana-kemari dan mengingat apa-apa yang telah kita lakukan. Kita tidak pernah disadarkan bahwa sholat untuk kebaikan kita dan bisa dirasakan langsung oleh pikiran dan perasaan hati bahwa sholat akan membuat perasaan kita damai dan tenang.

Allah tidak butuh sholat kita, tapi kita butuh Allah yang telah menciptakan manusia. Kita sholat merupakan tanda syukur kepada Allah Semesta Alam. Ini adalah sinergi yang diharapkan dapat menampilkan kualitas sholat kita secara optimal. Perasaan khusyuk tidak mungkin bisa didapatkan jika kita tidak memiliki kesadaran dan kepercayaan bahwa sebenarnya disaat kita sholat, kita sedang berhadapan dengan Allah. Begitu indahnya manfaat sholat, dalam tiap gerakan sholat pun memiliki arti dan makna yang indah.

Makna Menghadap Kiblat

Mengingat bahwa Mengagungkan Syiar-syiar Allah merupakan kewajiban, sedang menghadap dalam Sholat menuju tempat yang telah dikhususkan oleh Allah. Untuk mencari Ridha-Nya dan mendekatkan diri kepadanya untuk lebih bisa menyatukan hati, mendekatkan kekhusyukan dan lebih bisa dekat bagi kehadiran hati bersama Allah.

Kekhusyukan tidak mungkin didapat kecuali dengan ketenangan dalam menghadap ke satu arah, bukan menghadap ke satu arah menuju kea rah lainnya, maka diperintahkan kepada kaum muslim untuk Menghadap Ka’bah, karena didalamnya terkandung makna kesabaran dan ketersambungan yang tak pernah putus dengan Allah.

Menghadapnya kaum Muslim ke satu kiblat sebenarnya sebagai jalan untuk menyatukan mereka, semuanya menghadap satu kiblat, hal ini akan menghimpun dan menyatukan hati mereka.

Niyyah (Niat Salat):

Niat adalah keputusan hati, pernyataan dari alasan-alasan di balik perbuatan. Ia artinya berniat untuk mengatakan “ya’ kepada Allah (swt) dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Takbiratul Ihram

Takbiratul Ihram berasal dari dua kata: Takbir (ucapan Allahu Akbar) dan Ihram (pengharaman), ketika dua kalimat ini digabung maka bermakna: Ucapan takbir yang memulai pengharaman dari melakukan hal-hal yg dilarang dalam shalat. Seperti makan, minum, berbicara kepada selain Allah SWT dan Rasul SAW dan hal-hal yang diajarkan Rasulullah SAW sebagai mubthilat (yg membatalkan) shalat.

Dengan mengucapkan Allahu Akbar, kita melemparkan seluruh urusan duniawi di belakang kita dengan tangan kita dan memohon perlindungan dalam kasih sayang Allah (swt). Ia untuk menegaskan bahwa Allah Maha Besar dengan mengucapkan takbir (Allahu Akbar).

Makna: Pengawalan segala sesuatu, sebagaimana hidup dimulai kelahiran, sesuatu yg ada pasti ada awalnya. Dengan keimanan kita yakin bahwa semuanya berawal dari Allah. Maka dengan takbir kita mengembalikan kepada segala aktivitas kita adalah karena Allah, ujung rantai dari awal segala awal, tidak karena guru, orang tua, orang lain (rantai pengetahuan bahwa kita harus Sholat) atau karena rantai rasa takut, rasa terpaksa, tapi karena ujung rantai rasa itu sendiri Allah sang Pencipta Rasa. Takbiratul Ihram sebagai starting point Sholat, simbol starting perjalan hidup. Maknanya penyerahan totalitas pada yang Maha Awal bahwa karenaNya ada dan karenaNya melakukan perjalanan hidup.

Qiyam (berdiri):

Dengan prinsip ini di dalam salat, manusia merepresentasikan para malaikat dan pepohonan yang senantiasa berdiri dan memuji Allah (swt). Qiyam adalah berdirinya manusia di hadapan Zat (swt) Yang Maha Kekal dengan raga dan hatinya. Kepala yang tertunduk saat qiyam mencerminkan ketiadaan kesombongan dan kerendahan hati.

Makna: Berdiri lambang siap berjalan menjelajahi kehidupan, karena kalo duduk tidak mungkin berjalan, Tegak artinya kehidupan harus ditegakkan (ditumbuhkan) pada ruang waktu, iman harus ditegakkan, akhlak harus ditegakkan, amalan pribadi dan amalan sosial harus ditegakkan. Hadis: Sholat adalah tiang agama (agama didirikan/ditegakkan oleh sholat). Sebagaimana pohon tegak lalu pada titik ketinggian optimum kemudian berbuah. Dalam perjalanan itu kita memakan energi di bumi lalu diproses dengan aturan hukum Allah dan memeliharanya supaya tidak dirusak hama/penyakit untuk menghasilkan buah (hakikat hidup). Buah itu untuk bekal perjalanan kehidupan selanjutnya. Tanpa tegak ruang hidup tidak ada, karena tegak, maka ada titik atas dan bawah dalam satu garis dan bergerak sehingga menciptakan ruang. Sederhananya karena kita berdiri tinggi atap rumah kita tidak kurang dari 1 m, tapi bahkan lebih tinggi dari badan kita. Sehingga ada ruang rumah yang harus diisi. Begitu juga hidup jasmani dan ruhani kita harus ditegakkan dan ruang yang dihasilkannya harus diisi dengan keimanan, amal kebaikan, kesholehan, pengabdian yang iklas kepada Allah dan sebagainya. Dalam tegak berdiri, posisi kepala tunduk, artinya dalam perjalanan hidup akan tunduk dan patuh pada segala Hukum dan Kehendak Allah bebas dari rasa kesombongan diri.Kedua tangan memegang ulu hati, simbol bahwa hati akan selalu dijaga kebersihannya dalam perjalanan hidup.

Bersedekap

Sedekap ini bukan merupakan rukun shalat, bila tak dikerjakan tak membatalkan shalat, yang merupakan rukun adalah berdiri dalam shalat wajib bagi yang mampu dan membaca al-Fatihah.

Qira’at (Bacaan):

Qira’at adalah untuk mensyukuri kesempurnaan Allah yang tanpa cacat, keindahan yang tidak dapat diserupai, dan kasih sayang Allah yang tiada batas dengan mengucapkan Alhamdulillah. Juga, Qira’at menunjukkan bahwa segala perbuatan dapat terwujud dengan pertolongan Allah dan pujian hanya bagi Dia. Untuk terhubung dengan Zat Yang Maha Kekal (swt) dengan mengucapkan: (“Ya Tuhan Hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan). (Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in).

Ruku’

Ruku’ secara bahasa adalah menunduk. Secara Syar’an adalah menundukkan badan hingga kedua telapak tangan meraih/bersandar pada kedua lututnya, dan bahwa Ruku’nya Rasulullah SAW itu tepat dalam posisi 90 derajat, hingga andai ditaruh sebuah gelas dipunggungnya niscaya tak tumpah, menunjukkan lurusnya posisi punggung beliau dalam 90 derajat.

Dalam posisi ini manusia mewakili ibadahnya para malaikat yang menyembah Allah dalam posisi ini secara konsisten dan hewan-hewan yang selalu berdiri dalam ruku’nya di atas empat kaki mereka. Ruku’ artinya mengagungkan Kebesaran Sang Pencipta beserta seluruh alam semesta yang melihat kelemahan dan kemiskinan manusia dengan melafazkan “subhana robbial azim”… untuk berusaha menanamkan akarnya di dalam hati kita dan untuk mengangkat kepala kita dari ruku’ dengan harapan memperoleh rahmat Allah dengan cara mengulang-ulang kebesaran Allah (swt).

Makna: Mengenal Allah lewat hasil ciptaanNya . Dalam perjalanan hidup, pada ruang ciptaan Allah kita menemukan, menyaksikan dan merasakan bermacam-macam hal : tanah, air, gunung, laut, hewan, sistem kehidupan, rantai makanan, rasa senang, rasa sedih, rasa marah, kelahiran, kematian, pertengkaran, percintaan, ilmu alam, pikiran, manusia sekitar kita, Nabi Rosul , dsb pokoknya semua yang kita tahu dan kita rasa. Ini bukti bahwa Allah itu Ada sebagai Pencipta dari semua itu.

Dan kita tahu apabila tanpa petunjuk para Utusan Allah (Nabi dan Rosul) kita tidak akan tahu jika semua itu ciptaan Allah, dan dengan para UtusanNya kita tahu tujuan arah hidup serta cara mengisi hidup agar selamat. Sebagai contoh : suku primitif tanpa adanya bimbingan Agama, sesuai fitrah manusia tetap mengamati alam dan menyimpulkan bahwa ada yang menciptakan, tapi tidak tahu siapa Sang Pencipta sebenarnya, sehingga diekspresikan pada penyembahan batu, patung yang dianggap memiliki kekuatan penciptaan. Jadilah kita menghormati Para Utusan Allah (Rosul, Nabi, Malaikat) yang telah mengenalkan Allah pada kita serta menghormati langit bumi berserta isinya, serta termasuk kepada siapa yang mengenalkan Tuhan kepada kita seperti orang tua, guru. Penghormatan sebagai rasa terimakasih kita bahwa kita jadi tahu Tuhan itu seperti apa. Dalam penghormatan juga sebagai dinyatakan keinginan berpartisipasi untuk ambil bagian dalam pemeliharaan Ciptaan Allah ini dan tidak ingin merusaknya.

I’tidal

Secara bahasa adalah tegak lurus. Secara syar’an adalah tegak berdiri kembali ke posisi semula sebelum sujudnya.

Makna: Kemudian kita berdiri lagi untuk mengisi perjalanan hidup dengan penuh puja dan puji pada Allah serta penuh syukur setiap saat sehingga tercipta kepatuhan dan ketaatan. Dengan mengetahui hasil ciptaan Allah maka akan tumbuh kekaguman dan kecintaan pada Allah sehingga tumbuh rasa cinta dan iklas atau dengan senang hati menjalani hidup sesuai Kehendak Allah.

Sujud:

Secara bahasa adalah merendahkan diri serendah rendahnya. Secara syar’an adalah meletakkan 7 anggota sujudnya pada bumi tempat ia melakukan shalat, yaitu kedua telapak tangan, kedua lutut, kedua kaki, dan dahinya, dengan mengangkat belakang tubuhnya lebih tinggi dari posisi dahinya, melambangkan kerendahan yg serendah rendahnya atas dahi.

Dengan posisi ini manusia mewakili ibadahnya para malaikat yang secara terus menerus bersujud dan binatang melata yang nampaknya hampir selalu bersujud seumur hidupnya. Sujud adalah meninggalkan segala sesuatu selain dari pada Allah (swt) dengan mengucapkan “subhanarobial a’la” dengan kerendahan hati kepada Keindahan Allah, asma Allah dan segala sifat-Nya.” Seorang hamba menjadi paling dekat dengan Tuhannya ketika bersujud. Maka, perbanyaklah doa dalam sujud” (Muslim).

Makna: Jika berdiri di analogikan dengan perjalan jasad maka Sujud dengan kaki dilipat, atau setengah berdiri adalah simbol dari perjalanan hati (rohani). Dangan sujud hati dan fikiran kita direndahkan serendahnya sebagai tanda ketundukan total pada segala kehendak Allah dan mengikuti segala kehendak Allah. Menyatu kan kehendak Allah dengan Kehendak kita. Contohnya :

Allah maunya kita Sholat, ya saya juga mau Sholat, kalau kata Allah jangan lakukan ya saya juga tidak akan lakukan, Kalau Allah tidak suka ya saya juga tidak suka, Kalau Allah cinta atau suka ya saya juga cinta dan suka pokoknya makin selalu sama (dan sehati) tidak akan sedikitpun bertentangan.

Dengan merekatkan kepala pada bumi dimana bumi adalah asal, tempat hidup dan tempat akhir hidup. Di bumi kita lahir di bumi kita menjalani waktu kehidupan, di bumi kita berladang amal, bumi menjadi saksi seluruh hidup kita, di bumi kita mati, di bumi kita dihukum (alam kubur). Merekatkan diri ke Bumi, bahwa awal dan akhir manusia dari dan ke bumi, berharap pada saat kematian keadaan diri kita sama saat dengan saat dilahirkan, yaitu dalam keadaan suci, sehingga bisa bertemu Allah.

Duduk di antara dua sujud

Duduk antara dua sujud secara bahasa adalah duduk sebagaimana yg kita fahami, dan secara syar’an pun demikian, duduk dalam posisi apapun yg disebut duduk tetap sah shalatnya, misalnya bersila, tetap sah shalatnya, dan sunnah adalah duduk dengan Iftirash dengan menegakkan telapak kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri sebagaimana kita lihat orng yg melakukan duduk dalam shalat.

Makna: Pengungkapan berbagai permohonan pada Allah untuk memberikan segala kebutuhan yang diperlukan dalam bekal perjalanan menuju pertemuan dengan Allah, butuh sumber dukungan hidup jasmani dan ruhani, serta pemeliharaan dan perlindungan jasmani ruhani agar tetap pada jalan Allah.

Tahiyatul

Tahiyyah secara bahasa adalah kemuliaan, secara syar’an adalah Salam kepada Allah, sebagaimana para sahabat mengucapkan salam pada Rasul saw, salam pada sesama muslim, merekapun mengucapkan salam kepada Allah, maka Rasul saw bersabda: Jangan ucapkan salam pada Allah, karena Allah adalah as-Salaam, tapi ucapkanlah Attahiyyatulillah (Syarh Baijuri Bab Shalat).

Tasyahhud, secara bahasa adalah mengucapkan syahadat, secara syar’an adalah terbagi dua, Tasyahhud awal dan Tasyahhud Akhir, tasyahhud awal adalah duduk setelah sujud kedua pada rakaat kedua, lalu membaca doa tasyahhud awal sebagaimana dijalankan oleh muslimin dan yg itu semua telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, demikian pula Tasyahhud Akhir, yaitu ucapan yang merupakan percakapan antara Allah SWT dan Rasulullah SAW di malam Mi’raj beliau, sebagaimana Rasul saw menceritakannya: aku bersujud dan berucap: Attahiyyatulmuba dst.. Lalu Allah menjawab: Assalaamu alaika Ayyuhannabiyy.., lalu Aku menjawab: Assalaamu alaina.., maka percakapan ini dijadikan kewajiban untuk selalu diucapkan oleh setiap umatnya, karena saat itulah diwajibkannya shalat, maka shalat menyimpan rahasia kemuliaan Mi’raj beliau saw kepada Allah swt.

Makna: Tahap pemantapan, Karena perjalan hidup itu naik turun dan fitrah manusia tidak lepas dari sifat lupa maka perlu pemantapan yang di refresh dan diulang untuk semakin kokoh. Yaitu Ikrar Syahadat, dengan simbol pengokohan ikrar melalui telunjuk kanan. Sebelum Ikrar memberikan penghormatan untuk para Utusan Allah dan Ruh Hamba-hamba Sholeh (Auliya) yang melalui merekalah kita mengenal Allah juga melalui ajarannya kita dibimbing menujuNya dan menjadikan mereka menjadi saksi atas Ikrar kita. Shalawat menjadi pernyataan kebersediaan mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW, dan menempatkannya sebagai pimpinan dalam perjalanan kita. Salam penghormatan kepada Bapak para Nabi Nabi Ibrahim yang menjadi bapak induk ajaran Tauhid. Kemudian diakhir dengan permohonan doa dan permohonan perlindungan dari kejahatan tipuan Dajal/Iblis untuk menjaga perjalanan tetap pada keselamatan dan berhasil mencapai Allah.

Menunjukkan jari ketika sedang tahiyat

Merupakan Ittiba’ lirrasul SAW (berpanutan pada perbuatan Rasulullah SAW).

Salam

Salam adalah ucapan dari rukun shalat yang terakhir dengan niat selesai dari shalat, ucapan salam yang pertama merupakan rukun shalat, dan salam yang kedua adalah sunnah, mengenai kepada siapa ucapan tersebut memang banyak khilaf, namun bukan itu daripada tujuan utama mengucapkan salam, karena tujuan utama dari salam dan seluruh gerakan shalat adalah Ittiba’ lirrasul SAW dengan landasan perintah Allah SWT dengan puluhan ayat pada al-Qur’anul Karim yang memerintahkan kita taat kepada Rasulullah SAW, dan mengikuti perintah beliau.

Makna: Salam adalah ucapan yang mengakui adanya manusia lain yang sama-sama dalam perjalanan (aspek kemasyarakatan) menunjukkan bahwa hidup ini tidak sendiri, sehingga hendaknya menyebarkan salam dan berkah kepada sesama untuk saling bahu membahu menegakkan kehidupan yang harmonis (selaras) dan tegaknya kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan di bumi Allah.

Salam adalah penutup sekaligus awal dari mulainya praktek aplikasi Sholat dalam bentuk aktivitas kehidupan di lapangan hingga ke Sholat berikutnya. Nah salam itu simbol dari putaran yang dimulai dari kanan ke kiri dengan poros badan. Jika dihubungkan dengan Hukum Kaidah Tangan Kanan berarti arah energi ke atas, simbolisasi bahwa perjalanan digantungkan pada Allah SWT (di atas) sebagai penjamin keselamatan dalam perjalanan.

Menurut Contoh Rasulullah

Ustaz Satria Hadi Lubis, melalui laman e-konsultasi Eramuslim.com, mengatakan, setiap gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW tentu syarat dengan hikmah dan manfaat. Syaratnya, semua gerak tersebut dilakukan dengan benar dan tu’maninah (tenang dan khusyu).

Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat. Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam.

Rasul berkata kepada pria itu, “Sahabatku, engkau tadi belum shalat!” Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat.

Rasulullah SAW tersenyum melihat “gaya” shalat seperti itu. Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, “Sahabatku, tolong ulangi lagi shalatmu! Engkau tadi belum shalat.”

Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah SAW. Tentunya dengan gaya shalat yang sama. Namun seperti “biasanya”, Rasulullah SAW menyuruh orang itu mengulangi shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku! “Sahabatku,” kata Rasulullah SAW dengan tersenyum, “Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam al-Quran yang engkau pandang paling mudah.

Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma’ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu.”

Kisah dari Mahmud bin Rabi’ Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya ini memberikan gambaran bahwa shalat tidak cukup sekadar “benar” gerakannya saja, tapi juga harus dilakukan dengan tu’maninah, tenang, dan khusyuk.

Hikmah gerakan salat:

Kita dapat menganalisis kebenaran sabda Rasulullah SAW dalam kisah di awal. “Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah.” Saat takbir Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ke atas hingga sejajar dengan bahu-bahunya (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar).

Takbiratul ihram: Berdiri tegak lurus

Berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening dan kekuatan otot lengan Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

Ketika mulai berdiri tubuh terasa ringan karena berat tubuh tertumpu pada dua kaki. Otot-otot punggung sebelah atas dan bawah dalam keadaan kendur. Punggung dalam keadaan lurus, dengan pandangan terpusat pada tempat sujud. Pikiran berada dalam keadaan terkendali. Pusat otak, atas dan bawah menyatu membentuk kesatuan tujuan. Hal ini juga merupakan cerminan diri dan hati di hadapan Allah. Walau dalam kondisi berdiri tegak namun kepala ditundukkan ke tempat sujud, hal ini mengisyaratkan bahwa kita diwajibkan untuk bertawadhu’ (rendah hati) dan menghindari kesombongan, ini juga merupakan suasan yang sangat dahsyat dimana kita berdiri dihadapan Allah seperti suasana saat nanti manusia di hadapan Allah pada hari pengadilan (yaum al-dîn). Saat kita berhadapan dengan Allah Yang Maha Mengetahui diri kita, dan kita berhadapan dengan dzat yang sangat kita cintai, maka saat itu pula pikiran kita akan menjadi tenang, anggota badan tertunduk dan semua eksistensi diri kita menjadi tenteram.

Takbir ketika hendak rukuk, dan ketika bangkit dari rukuk. Beliau pun mengangkat kedua tangannya ketika sujud. Apa maknanya? Pada saat kita mengangkat tangan sejajar bahu, maka otomatis kita membuka dada, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirkan ke bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan telinga kita, sehingga keseimbangan tubuh terjaga.

Ruku’

Ketika ruku’, Rasulullah SAW meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut (HR Bukhari dari Sa’ad bin Abi Waqqash). Apa maknanya? Ruku’ yang dilakukan dengan tenang dan maksimal, dapat merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang (sebagai syaraf sentral manusia) beserta aliran darahnya.

Ruku’ adalah membengkokan tulang belakang dan meluruskannya meregangkan antara tulang dan otot punggung, ruku’ yang sempurna adalah ditandai tulang belakang yang luruh sehingga bila diletakkan segelas air diatas punggung tersebut tidak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Meletakkan tangan pada lutut seraya meluruskan tulang belakang dan menahannya akan mempelancar perdarahan dan gerah bening. Karena itu, makanan bagi tulang belakang beserta ligament dan otot pendukungnya akan terjamin. Lebih jauh Aliah BP. Hasan dalam bukunya Pengantar Psikologi Kesehatan Islami mengatakan bahwa ruku’ merupakan salah satu metode untuk menguatkan otot-otot pada persendian kaki yang dapat meringankan tegangan pada lutut, ketika ruku’ seseorang meregangkan otot punggung sebelah bawah, otot paha, dan otot betis secara penuh. Tekanan akan terjadi pada otot lambung, perut dan ginjal, sehingga darah akan terpompa ke atas tubuh. Dan ketika melakukan qauna atau berdiri setelah ruku’.

Secara spiritual ruku’ dapat membentuk seseorang dalam kehidupannya tidak sombong, memulai merendahkan dan menundukkan diri, dan senantiasa berusaha dalam memperhalus hati dan memperbaharui kekhusyu’an shalat, merasakan bahwa dirinya hina dan merasakan pula kemuliaan Allah, kemudian ia memuji dan mengakui keagungan Allah. hal ini tercermin dalam ucapan dalam ruku’ “Subhâna Rabbî al-‘adhîmi wa bihamdihi” ( Maha suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan segala puji bagi-Nya ).

I’tidal

Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan setinggi telinga. i’tidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar. postur tubuh kembali tegak, sehingga memberikan tekanan pada aliran darah untuk bergerak keatas. Hal ini dapat membuat tubuh mengalami relaksasi dan melepaskan ketegangan, hal serupa juga terjadi ketika berdiri setelah sujud.

Sujud

Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Sujud bermanfaat memompa aliran getah bening ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma’ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

Gerakan dalam sujud juga mempunyai metode yang dapat membawa kedamaian, keselarasan, kesesuaian, ketenangan dan kebahagiaan. Dalam sujud badan dari belakang rata ke depan, kedua telapak tangan ditempelkan pada lantai/tanah, dan kaki ditekuk. Sujud adalah pijatan usus yang sudah dimulai sejak ruku’. Dilakukan dengan meluruskan tulang belakang dan meregang otot hingga rongga perut mengecil. Otot yang bertambah kuat akan mencegah berbagai penyakit seperti heria dan membantu persalinan, sedangkan usus yang dipijat akan melancarkan peristalsis dan memudahkan buang air besar; aliran darah bebas hambatan akan mencegah ambeien.

Muka yang menempel pada lantai Rasulullah Saw. Pernah bersabda, “jangan kau usap kerikil yang menempel di muka (wajah) mu itu akan menjadi mutiara kelak di surga”. Jika ditinjau dari kesehatan bahwa wajah/muka yang terkena kerikil dalam keadaan sujud adalah merupakan pijatan refleksi yang berfungsi melancarkan peredaran darah dan mengendorkan syaraf-syaraf yang ada di muka, sehingga jika syaraf-syaraf muka kendur dan peredaran darahnya lancar niscaya terhindar dari penyakit kepala, seperti pusing-pusing, migrant, dll.

Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan.

Sujud jika ditinjau dari perspektif spiritual bahwa sujud menggambarkan tentang derajat ketundukan yang paling tinggi, karena anggota badan yang paling berharga, yaitu wajah di tempelkan pada sesuatu yang paling rendah, yaitu tanah. Jika memungkinkan, sujudlah langsung ke tanah tanpa alas, karena ini bisa membuat lebih khusyu’ dalam shalat dan dalam berdo’a, dan bukti yang paling baik atas kerendahan. Sujud juga merupakan posisi terbaik berdialog dengan Allah, dan juga posisi terbaik untuk bertemu dengan Allah (misalnya kematian) adalah ketika sujud. Cara terbaik untuk berterima kasih kepada Allah dan memuji-Nya juga ketika sujud. Melalui proses sujud, seseorang akan terserap ke dalam ketakterbatasan, dengan keabadian dan dengan dunia luar. Ketika seseorang mencapai keadaan kesatuan penuh dengan Allah Yang Maha Kuasa, seluruh tubuh bergetar dan menangis, dan doanya sampai kepada Allah ( Aliah BP. Hasan 2005)

Duduk Tasyahud

Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. Manfaatnya, saat iftirosy, bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf.

Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan. dengan benar, postur irfi mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iffirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ. “Nabi duduk dengan tuma’ninah sehingga ruas tulang belakangnya mapan”. Duduk dalam tasyahud dengan menekukan jari-jari yang berada pada kaki yang kanan, ini berfungsi untuk me-refleksi (berfungsi pijat refleksi) syaraf-syaraf kaki dan memperlancar peredaran darah hingga ke syaraf kepala, posisi duduk tasyahud juga dapat membantu pencernaan dengan menggerakkan isi perut ke arah bawah. Tubuh akan mengalami relaksasi, dan merangsang otot-otot pangkal paha, sehingga dapat mengurangi rasa nyeri dan sakit pada pangkal paha.

Salam

Gerakan memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal. Manfaatnya untuk relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.

Thuma’ninah

Sudah seharusnya shalat kita dilaksanakan dengan thuma’ninah yaitu dengan tenang, rileks, dan santai setelah melakukan aktivitas dalam mengarungi semua dimensi kehidupan. Hampir semua rukun-rukun shalat untuk melakukan thuma’ninah. Thuma’ninah merupakan bentuk relaksasi dalam shalat, dimana seseorang berdiam sejenak untuk merasakan istirahat atau bersantai-santai setelah mengalami kontraksi atau peregangan otot dan syaraf. Melalui thuma’ninah diharapkan seseorang mengalami kedamaian dan ketenangan, sehingga dapat mengurangi rasa kecemasan, dll.

Hitungan Matematika

Hitungan Matematika, kenapa orang tidak shalat itu sombong kepada Allah:

Di umpamakan jika kita hidup 60 tahun lamanya, Insya Allah. Di dalam 60 tahun, kita hidup sekitar 31,536,000 menit.
Hitungannya: 60 menit x 24(jam) x 365(hari) x 60(tahun) = 31,536,000 menit

Untuk sholat 5 waktu sampai kita umur 60 tahun, kita perlu:
5 menit x 5 (waktu) x 365(hari) x 49(tahun) = 447,125 menit

Kenapa dikali 49? karena kita diwajibkan sholat pada saat umur 12tahun (anggap ini usia aqil-baligh) . Jadi 60 tahun – 11 tahun = 49 Tahun

447,125 dibagi 31,536,000 dikali 100=1.4 %

KITA CUMA DIBUTUHKAN 1.4 % DARI HIDUP KITA UNTUK MENGIKUTI PERINTAH SHOLAT KEPADANYA. Jadi sebenarnya kita itu sombong sekali kalo tidak shalat 5 waktu.

Kesimpulan

Ketenangan, ketenteraman dan kesehatan orang yang diperoleh melalui shalat memiliki nilai spiritual yang cukup tinggi, dan gerakan yang sangat banyak. Hal ini disebabkan oleh karena dalam shalat terdapat dimensi dzikrullah dan juga dimensi gerak / olah raga, karena gerakan dalam shalat dilakukan dengan continue/istiqamah. Dimensi ini merupakan inti yang menyebabkan orang yang melaksanakan shalat senantiasa mengingat Allah sehingga hatinya menjadi tenang, dan gerakan dalam shalat merupakan olah raga yang dapat memberikan kekebalan pada tubuh, dan juga merupakan terapi dari beberapa penyakit yang ada pada tubuh kita. Hal ini dapat kita ibaratkan jika seseorang melakukan shalat sehari semalam 17 rakaat, dengan asumsi bahwa setiap rakaat shalat ia akan melakukan + 7 gerakan dan ditambah 2 gerakan salam, maka sehari semalam orang yang melasanakan sahalat dia akan menggerakan anggota tubuh sebanyak 7 X 17 = 119, dan 10 gerakan salam, maka total menjadi = 129 gerakan, hal ini 1 hari, dan hanya jika ia melaksanakan shalat fardlu,. jika seseorang melaksanakan shalat fardlu dalam satu bulan berarti ia telah melakukan : 125 X 30 = 3.870 gerakan.

Referensi :

B.P Hasan, Aliah, 2005 Pengantar Psikologi Islami, Proses Cetak.
Sa’id Hawwa, 2004, Intisari Ahya ‘ulumuddin Al-Ghazali, Mensucikan Jiwa, Rabbani Press, Jakarta.
An-Najar, Amir, 2004, Psikoterapi Sufistik, dalam Kehidupan Modern, Hikmah, Jakarta.
Mujib, Abdul, 2006, Kepribadian dalam Psikologi Islam.

[1] Sebagian ulama yang menyebutkan riwayat atau kalimat tersebut seperti imam Suyuthi dalam Syarah Sunan Ibnu Majah dan An-Naisaburi di dalam tafsirnya, mereka menyebutkannya tanpa Sanad sama sekali, sehingga tidak jelas asal-usulnya, apalagi sampai dikatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh imam al-Bukhari, maka terlalu mengada-ada. Demikian pula sebagian ulama seperti al-Munawi dalam kitab Faidhul Qodir dan Al-Alusi dlm kitab Ruhul Ma’ani mereka menyebutkan kalimat tersebut dalam rangka mnjelaskan kedudukan ibadah Sholat yang begitu tinggi di dalam agama Islam, tapi tanpa sanad juga. Maka kita sebagai penuntut ilmu, hendaknya berhati-hati dalam membaca atau memposting riwayat2 yang masih meragukan keshohihannya. Apalagi di zaman sekarang terlalu banyak sms, atau bbm atau artikel yang berisi khurofat dan kedustaan dan kebatilan tapi disandarkan kepada Nabi dan juga para ulama hadis yang mana mereka berlepas diri dari riwayat2 tersebut. Wallahu almusta’an. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari segala keburukan dan penyimpangan dlm beragama.
Lafazh tersebut adalah satu ibarat ataupun kiasan ataupun misalan ataupun perumpaan yang diungkapkan oleh para ulama’ Islam, khasnya mereka yang mendalami ilmu Tasawuf. Dan ada juga yang mengatakan bahawa ungkapan ataupun lafazh itu pernah diungkapkan oleh Al-Imam al-‘Allamah Al-Munawi ( rh ). Walaupun status ungkapan ataupun perkataan tersebut masih kabur asal-usulnya secara pasti hingga ke saat jawapan ini ditulis, namun itu tidaklah bermakna bahawa perkataan itu tidak boleh diterima.
Isi dan maksud perkataan tersebut sudah tentu sahih dan betul . Lihat sahaja peristiwa ketika Baginda Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam mikraj ke atas lapisan-lapisan langit, apakah kesudahan yang paling utama di dalam peristiwa tersebut ?. Sudah tentu kesudahannya ialah Baginda Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam menerima kewajipan melaksanakan shalat ( shalat ) 5 waktu sehari-semalam.

Bagikan informasi tentang MAKNA DAN HIKMAH GERAKAN SHOLAT kepada teman atau kerabat Anda.

MAKNA DAN HIKMAH GERAKAN SHOLAT | Tuneeca Online

Belum ada komentar untuk MAKNA DAN HIKMAH GERAKAN SHOLAT

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
Rp 589.000
Ready Stock / SL-0117022
SIDEBAR